Taman Baca Masyarakat Kurang Publishing
Oleh: Asriyatus Syaniah
Fenomena era globalisasi tidak akan terhindar dari alat-alat
digital. Dimana alat-alat digital ini sudah mendarah daging di segala aspek
kehidupan terutama pendidikan. dalam dunia pendidikan sudah tidak asing lagi
dengan alat-alat digital diantaranya ada proyektor yang membantu pembelajaran
dengan dapat menampilkan materi yang ada di laptop pada layar atau permukaan
datar seperti dinding atau infocus, sehingga pelajar bisa langsung melihat
materi yang disajikan pemateri dengan jelas dan langsung.
Selain banyak alat-alat digital lainnya yang digunakan juga telah
banyak hal-hal pendidikan yang menjadi elektronik, semisal buku elektronik atau
e-book. Oleh karenanya banyak lembaga pendidikan dan para pengajar yang
menyediakan e-book gratis untuk menunjang pembelajaran, sehingga
anak-anak di era globalisasi ini tidak akan terlepas dan sulit dari alat-alat
elektronik.
Namun, tidak jarang juga pemateri yang meminta pelajarnya untuk
membaca buku yang manual. Karena buku manual pun tidak kalah lebih manfaat
dibanding dengan ebook. Selain itu, para penikmat baca sejati pun
selarasnya lebih menyukai membaca buku manual dibanding ebook.
Tetapi masalah yang terjadi untuk mendapat sebuah buku itu
bermacam-macam, diantaranya lokasi yang terbatas dan masalah keuangan bagi
kalangan bawah.
Melihat masalah tersebut, sudah banyak aktivis yang membangun dan
membuka taman bacaaan bagi masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman.
Sehingga masalah tersebut sudah mulai bisa diatasi. Karena di taman bacaan ini,
masyarakat bisa membaca ataupun meminjam buku yang dikehendakinya dengan mudah.
Di taman bacaan ini sebenarnya tidak terjadi kegiatan membaca saja,
ada kegiatan lainya semisal festival menggambar, sharing pembelajaran di
sekolah dan masih banyak lagi kegiatan pendidikan lainnya yang tidak terikat
oleh sistem-sistem pemerintahan.
Taman bacaan masyarakat ini sudah tersebar luas di seluruh
Indonesia, namun tidak masyarkat sekitar yang mmengetahui dan menyadari akan
keberadaan taman bacaan tersebut. Hal ini bisa terjadi entah itu dari pihak
pembangun taman bacaannya yang tidak mempublishkan atau mungkin masyarakat yang
tidak mau peduli akan keberadaannya.
Hali ini bisa diminimalisir dengan senantiasa mensosialisasikan
taman bacaan ke masyarakat dengan cara-cara mensisipkan info taman bacaan ke
alat-alat elektronik. Di iklankan di televisikah, di radio dan sosial media.
Dengan cara-cara ini bisa diperkirakan sebagian masyarakat akan mengetahui dan
menyadari akan keberadaan dan manfaat taman bacaan didirikan.
Dan tak lupa ajakan langsung dari pihak pemerintahan setempat untuk
menghimbau masyarakatnya senantiasa berkunjung ke taman bacaan akan mempermudah
dan mengefektifkan taman bacaan dalam beroprasi. Karena suatu pemberdayaan
masyarakat akan berlangsung jika ada partisipasi dari masyarkat itu sendiri.
Asriyatus Syaniah, Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)
UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar