Rabu, 03 Januari 2018

mahasiswa produktif



Taman Baca Masyarakat Kurang Publishing
Oleh: Asriyatus Syaniah
Fenomena era globalisasi tidak akan terhindar dari alat-alat digital. Dimana alat-alat digital ini sudah mendarah daging di segala aspek kehidupan terutama pendidikan. dalam dunia pendidikan sudah tidak asing lagi dengan alat-alat digital diantaranya ada proyektor yang membantu pembelajaran dengan dapat menampilkan materi yang ada di laptop pada layar atau permukaan datar seperti dinding atau infocus, sehingga pelajar bisa langsung melihat materi yang disajikan pemateri dengan jelas dan langsung.
Selain banyak alat-alat digital lainnya yang digunakan juga telah banyak hal-hal pendidikan yang menjadi elektronik, semisal buku elektronik atau e-book. Oleh karenanya banyak lembaga pendidikan dan para pengajar yang menyediakan e-book gratis untuk menunjang pembelajaran, sehingga anak-anak di era globalisasi ini tidak akan terlepas dan sulit dari alat-alat elektronik.
Namun, tidak jarang juga pemateri yang meminta pelajarnya untuk membaca buku yang manual. Karena buku manual pun tidak kalah lebih manfaat dibanding dengan ebook. Selain itu, para penikmat baca sejati pun selarasnya lebih menyukai membaca buku manual dibanding ebook.
Tetapi masalah yang terjadi untuk mendapat sebuah buku itu bermacam-macam, diantaranya lokasi yang terbatas dan masalah keuangan bagi kalangan bawah.
Melihat masalah tersebut, sudah banyak aktivis yang membangun dan membuka taman bacaaan bagi masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman. Sehingga masalah tersebut sudah mulai bisa diatasi. Karena di taman bacaan ini, masyarakat bisa membaca ataupun meminjam buku yang dikehendakinya dengan mudah.
Di taman bacaan ini sebenarnya tidak terjadi kegiatan membaca saja, ada kegiatan lainya semisal festival menggambar, sharing pembelajaran di sekolah dan masih banyak lagi kegiatan pendidikan lainnya yang tidak terikat oleh sistem-sistem pemerintahan.
Taman bacaan masyarakat ini sudah tersebar luas di seluruh Indonesia, namun tidak masyarkat sekitar yang mmengetahui dan menyadari akan keberadaan taman bacaan tersebut. Hal ini bisa terjadi entah itu dari pihak pembangun taman bacaannya yang tidak mempublishkan atau mungkin masyarakat yang tidak mau peduli akan keberadaannya.
Hali ini bisa diminimalisir dengan senantiasa mensosialisasikan taman bacaan ke masyarakat dengan cara-cara mensisipkan info taman bacaan ke alat-alat elektronik. Di iklankan di televisikah, di radio dan sosial media. Dengan cara-cara ini bisa diperkirakan sebagian masyarakat akan mengetahui dan menyadari akan keberadaan dan manfaat taman bacaan didirikan.
Dan tak lupa ajakan langsung dari pihak pemerintahan setempat untuk menghimbau masyarakatnya senantiasa berkunjung ke taman bacaan akan mempermudah dan mengefektifkan taman bacaan dalam beroprasi. Karena suatu pemberdayaan masyarakat akan berlangsung jika ada partisipasi dari masyarkat itu sendiri.
Asriyatus Syaniah, Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Tidak ada komentar:

Posting Komentar