Selasa, 02 Januari 2018

mahasiswa produktif


MASJID WALET
Oleh: Asriyatus Syaniah
Pohoon kelapa melambai-lambai untuk menyapa setiap insan yang menikmati angin sepoi-sepoi di pesisi pantai. Senja pun menyertai langit dengan mega merahnya yang semakin meredup.
Lantunan adzan mulai menyelinap di telinga setiap insan. Ramailah setiap masjid oleh umat muslim untuk menunaikan kewajiban sholat.
Hari menggenap menjadi satu minggu, minggu pun terkumpul menjadi bulan, begitu pun dengan aktifitas penduduk Kampung Seram yang senantiasa untuk meramaikan masjid.
Pada suatu hari ketika para penduduk sedang mengadakan pengajian mingguan ba`da ashar, mereka dikejutkan dengan datangnya ombak yang menngulung hingga pemukiman yang mereka diami, sehingga mengakibatkan beberapa rumah penduduk terseret ombak tersebut. Begitu pun dengan masjid yang mereka gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sejalan dengan keadaan tersebut, penduduk berusaha membenahi sekuat tenaga setiap sudut kampung yang mengalami kerusakan. Begitu pun dengan Masjid Istiqomah yang terletak tak jauh dari pantai. Setelah segala daya upaya penduduk Kampung tersebut dikerahkan namun masih tetap menghadirkan adanya rasa kekhawatiran yang menyelinap di hati para penduduk, karena masjid tersebut membutuhkan renovasi serius agar masjid tersebut dapat digunakan layaknya tujuan yang telah terlaksana.

###
            Mentari mulai merangkak ke permukaan, menyurupkan malam yang sunyi kian memekat. Seorang pembisnis handal yang sedang mengalami gulung tikar. Imajipun menyusup kala ia mengetahui keadaan kampung yang bersebrangan dengan kampung miliknya. Tak lama kemudian, ia sengaja menemui seorang yang terbilang terpandang di kampung Seram tersebut.
            “Pak, ada yang dapat saya bantu untuk ikut membenahi kampung ini?” tutur Baridin memulai pembicaraan.
            “ya, kami butuh bantuan untuk pembangunan masjid kami yang mengalami kerusakan pasca tsunami kemarin. Kami mengalami kalang kabut dalam masalah finansial. Dimana perekonomian kampung ini tidak lah terlalu tinggi, malah condong kebawah” jelas Ustad Somad
            “tambah keadaan saya yang tidak stabil, mulai sakit-sakitan efek bencana kemarin. Sehingga saya kurang mumpuni memimpin dan mengatur penduduk Kampung Seram ini” tambah Ustad Somad sebagai kepala desa.
            “hhhmmmm.. seperti itu ya pak. Saya mengajukan sebuah saran yang insya Allah bisa membantu hal tersebut pak, tapi saya memerlukan persetujuan bapak” mulai Baridin mempromosikan bisnisnya.
            “saya kira saya akan menyetujuinya apa pun saran dari nak baridin itu. Karena saya merasa sudah tidak mampu untuk melakukan apapun”
            Setelah mendengar persetujuan Ustad Somad, Baridin langsung pergi meninggalkan Ustad Somad denga pikirannya yang licik tanpa menjelaskan rencananya secara rinci kepada Ustad Somad.
###
            Satu minggu pun berlalu dan mentari pun tak lupa untuk menyapa setiap insan. Sehingga Baridin pun telah siap untuk menjalankan bisnisnya. Ia sudah menghubungi mitranya untuk mengumpulkan dan membawa waletnya ke kampung. Setelah sampai, dimasukkanlah walet-walet tersebut kedalam Masjid.
Sang mentari pun bergegas merangkak naik perlahan-lahan. Kumandan adzan dzuhur pun berkumandang di kampung sebrang. Berbeda dengan seorang muadzin di Kampung Seram, ia begitu kebingungan melihat msjidnya penuh dengan walet-walet yang berterbangan. Pergilah sang muadzin ke rumah Ustad Somad untuk melaporkan kejadian yang terjadi.
Sampailah sang muadzin di rumah Ustad Somad. Ditemuinya Ustad Somad di atas ranjang kamar tiidurnya dengan Baridin disampingnya. Sebelum sang muadzin menyampaikan maksud kedatangannya, Ustad Somad langsung mengerti seraya berkata
“iya Mat, saya tau maksud kedatangamu. Oleh karenanya mulai dari sekarang para penduduk akan melaksanakan shalat berjamaah atau kegiatan agama lainnya di mushola belakang rumah saya. Insya Allah hal ini akan baik itu perekonomian  dan masjid kita kedepannya” jelas Ustad Somad kepada Rahmat.
Rahmat pun bergegas kembali ke masjid untuk memberitahukan kepada penduduk akan adanya perubahan tersebut. Maka berbondonglah penduduk kampung dari masjid menuju mushola itu.
###
Selang tiga hari, keherana penduduk semakin memuncak. Maka mereka mengajukan perkumpulan untuk membahas tentang masjid yang berisi dengan walet. Keadaan Ustad Somad pun sudah membaik dari sebelumya. Oleh karenanya Ustad Somad sesegera mungkin mengumpulkan penduduknya di musholanya pada saat detik-detik sang surya mulai kembali ke peraduannya.
Perkumpulan pun berlangsung dengana dipimpin oleh Rahmat. Ustad Somad pun menjelaskan sejelas-jelasnya kepada penduduknya. Bahwa hal ini sangatlah bermanfaat untuk masa depan Kampung Seram.
Ditengah perkumpulan tersebut ada seorang mahasiswi UIN Ambon yang kritis menyanggah akan keputusan yang telah diambil oleh sang ustad.
“maaf ustad, yang saya rasa dan ketahui dari beberapa sumber bahwa pengalih fungsian masjid menjadi tempat yang bukan semestinya itu tidak boleh apalagi selanjutnya itu menjadi tempat bisnis. Dimana di masjid itu bukanlah tempat untuk bertransaksi. Dalilnya pun sudah jelas dan anda pun lebih mengetahuinya.” Bantah Nussy.
“adapun ketika kita memerlukan finasial untuk pembangunan masjid ini apa salahnya setiap warga dimintai shadaqahnya walau seribu saja. Ketika kita menghadapinya secara bersamaan, insya Allah kita mampu menerjangnya ustad. Selain itu bisa saja kita ajukan kepada proposal kepada pihak pemerintahan untuk segera memberikan hak nya bagi fasilitas umum.” Tambah Nussy menegaskan akan tidak baiknya mengalih fungsikan sebuah masjid.
Namun apa yang terjadi ustad Somad mengabaian apa yang disampaikan Nussy. Karena beranggapan bahwa seorang perempuan itu tidak ada hak untuk berbicara. Selain itu, penduduk Kampung Seram ini tidak memilik pengetahuan secara mendalam baik itu pengetahuan umum atau pun agama. Mereka hanya berusaha bertahan hidup dengan pengetahuan yang seadanya dilingkungan tersebut. Maka pendapat dari Nussy pun diabaikan.
###
Beriringnya waktu suatu hal yang diharapkan dari walet-walet yang berada di masjid yakni air liurnya telah terkumpul. Maka segeralah Baridin dan Ustad Somad menjualnya kepada kolektor air liur walet. Jauh dari prediksi, harga yang dijatuhkan kolektor itu sangat lah tinggi hingga mencapai lima juta rupiah perseratus gram. Sedangkan pada penjualan perdana ini telah mencapai lima belas kilo gram. Begitu tinggi harga yang ditawarkan.
Merasa belum cukup untuk pembangunan masjid yang diinginkan yakni lebih mewah dari sebelumnya. Mereka melanjutkan bisnis tersebut.
###
Namun, di ujung Timur Nussy terus berjuang demi pembangunan masjid dari suatu hal yang halal. Walaupun pada saat itu Nussy tidak mendapat dukungan dari penduduk setempat terkecuali keluarga dan teman-teman terdekatnya.
Nussy bolak-balik terus-menerus ke perusahaan-perusahaan dan pihak pemerintahan. Mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan sampai ke pusat. Semua daya dan upaya Nussy telah ia kerahkan semampunya, hanya lah waktu yang akan membalasnya.
###
Waktu panen sarang air liur walet yang kedua pun tiba. Inilah waktu yang ditunggu Baridin dan Ustad Somad. Mereka kembali bertansaksi dengan kolektor yang sama. Sehingga mereka telah mengharapkann sesuatu yang sama dengan sebelumnya atau malah lebih.
Bertemulah mereka disuatu tempat sunyi senyap dengan dua puluh kilo gram sarang walet..
“tolong masukan saja barangnya ke boks mobil belakang. Dan ini uangnya dalam koper sebanyak 1.5 milyar” ujar sang kolektor sambil memperlihatkan isi kopernya.
Setelah kedua belah pihak telah saling menyetujui, masing-masing mereka pun segera kembali. Sang kolektor dengan sarang waletnya dan Baridin dengan skoper uangnya dengan arah yang berlawanan.
###
Sesampainya di kampung, Ustad Somad dan Baridin mengumpulkan penduduk untuk memperlihatkan hasil bisnisnya dan memaparkan langkah selanjutnya. Namun semua diluar harapan, ketika koper itu di buka.
“sial.. apa-apan ini? Semua uangnya palsu. Kita telah tertipu tad. Jika begini kita tidak mampu untuk pembangunan masjid ini.” Keluh Baridin
Ustad Somad pun tak bisa berkata-kata melihat dan mendengar kejadiannya. Jangankan bicara untuk berdiri tegak pun ia sudah tak bisa. Karena ia mengalami serangan jantung ketika mendengar Baridin berkata. Dilarikannlah Ustad Somad ke puskesmas terdekat. Namun siapa yang tahu , dipertengah jalan ia tak bisa diselamatkan sehingga menghembuskan napas terakhirnya. Mengetahui hal tersebut Baridin makin khawatir akan nasibnya yang telah berada diujung tanduk.
###
Terlepas dari kekacauan tersebut. Nussy kedatangan tamu besar dari pusat pemerintahan langsung, yakni sang presiden Joko Widodo. Beliau tersentuh akan kerja keras dan perjuangan Nussy yang menjunjung nilai-nilai agama dan sosial. Maka tak tanggung-tanggung donasi dari pemerintahan pun diberikan kepada kampung Seram. Karena sang ustad sekaligus kepala desa telah tiada, penduduk pun mengangkat Rahmat sebagai gantinya. Sehingga simbolis dilakukan oleh Pak Jokowi dengan Rahmat di depan Masjid Istiqomah. Dan tak lupa suatu penghargaan yang diberikan Pak Jokowi kepada Nussy sebagai pejuang tanah airnya sendiri.
Ramai sorak dan tepuk tangan terdengar damai telah menyeliputi Kampung Seram saat sang mentari mengintip manja di ujung Barat.
###
The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar