MASJID WALET
Oleh: Asriyatus
Syaniah
Pohoon
kelapa melambai-lambai untuk menyapa setiap insan yang menikmati angin
sepoi-sepoi di pesisi pantai. Senja pun menyertai langit dengan mega merahnya
yang semakin meredup.
Lantunan
adzan mulai menyelinap di telinga setiap insan. Ramailah setiap masjid oleh
umat muslim untuk menunaikan kewajiban sholat.
Hari
menggenap menjadi satu minggu, minggu pun terkumpul menjadi bulan, begitu pun
dengan aktifitas penduduk Kampung Seram yang senantiasa untuk meramaikan masjid.
Pada
suatu hari ketika para penduduk sedang mengadakan pengajian mingguan ba`da
ashar, mereka dikejutkan dengan datangnya ombak yang menngulung hingga
pemukiman yang mereka diami, sehingga mengakibatkan beberapa rumah penduduk
terseret ombak tersebut. Begitu pun dengan masjid yang mereka gunakan untuk
mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Sejalan
dengan keadaan tersebut, penduduk berusaha membenahi sekuat tenaga setiap sudut
kampung yang mengalami kerusakan. Begitu pun dengan Masjid Istiqomah yang
terletak tak jauh dari pantai. Setelah segala daya upaya penduduk Kampung
tersebut dikerahkan namun masih tetap menghadirkan adanya rasa kekhawatiran
yang menyelinap di hati para penduduk, karena masjid tersebut membutuhkan
renovasi serius agar masjid tersebut dapat digunakan layaknya tujuan yang telah
terlaksana.
###
Mentari mulai merangkak ke
permukaan, menyurupkan malam yang sunyi kian memekat. Seorang pembisnis handal
yang sedang mengalami gulung tikar. Imajipun menyusup kala ia mengetahui
keadaan kampung yang bersebrangan dengan kampung miliknya. Tak lama kemudian,
ia sengaja menemui seorang yang terbilang terpandang di kampung Seram tersebut.
“Pak, ada yang dapat saya bantu
untuk ikut membenahi kampung ini?” tutur Baridin memulai pembicaraan.
“ya, kami butuh bantuan untuk
pembangunan masjid kami yang mengalami kerusakan pasca tsunami kemarin. Kami
mengalami kalang kabut dalam masalah finansial. Dimana perekonomian kampung ini
tidak lah terlalu tinggi, malah condong kebawah” jelas Ustad Somad
“tambah keadaan saya yang tidak
stabil, mulai sakit-sakitan efek bencana kemarin. Sehingga saya kurang mumpuni
memimpin dan mengatur penduduk Kampung Seram ini” tambah Ustad Somad sebagai
kepala desa.
“hhhmmmm.. seperti itu ya pak. Saya
mengajukan sebuah saran yang insya Allah bisa membantu hal tersebut pak, tapi
saya memerlukan persetujuan bapak” mulai Baridin mempromosikan bisnisnya.
“saya kira saya akan menyetujuinya
apa pun saran dari nak baridin itu. Karena saya merasa sudah tidak mampu untuk
melakukan apapun”
Setelah mendengar persetujuan Ustad
Somad, Baridin langsung pergi meninggalkan Ustad Somad denga pikirannya yang
licik tanpa menjelaskan rencananya secara rinci kepada Ustad Somad.
###
Satu minggu pun berlalu dan mentari
pun tak lupa untuk menyapa setiap insan. Sehingga Baridin pun telah siap untuk
menjalankan bisnisnya. Ia sudah menghubungi mitranya untuk mengumpulkan dan
membawa waletnya ke kampung. Setelah sampai, dimasukkanlah walet-walet tersebut
kedalam Masjid.
Sang
mentari pun bergegas merangkak naik perlahan-lahan. Kumandan adzan dzuhur pun
berkumandang di kampung sebrang. Berbeda dengan seorang muadzin di Kampung
Seram, ia begitu kebingungan melihat msjidnya penuh dengan walet-walet yang
berterbangan. Pergilah sang muadzin ke rumah Ustad Somad untuk melaporkan
kejadian yang terjadi.
Sampailah
sang muadzin di rumah Ustad Somad. Ditemuinya Ustad Somad di atas ranjang kamar
tiidurnya dengan Baridin disampingnya. Sebelum sang muadzin menyampaikan maksud
kedatangannya, Ustad Somad langsung mengerti seraya berkata
“iya
Mat, saya tau maksud kedatangamu. Oleh karenanya mulai dari sekarang para
penduduk akan melaksanakan shalat berjamaah atau kegiatan agama lainnya di
mushola belakang rumah saya. Insya Allah hal ini akan baik itu
perekonomian dan masjid kita kedepannya”
jelas Ustad Somad kepada Rahmat.
Rahmat
pun bergegas kembali ke masjid untuk memberitahukan kepada penduduk akan adanya
perubahan tersebut. Maka berbondonglah penduduk kampung dari masjid menuju mushola
itu.
###
Selang
tiga hari, keherana penduduk semakin memuncak. Maka mereka mengajukan
perkumpulan untuk membahas tentang masjid yang berisi dengan walet. Keadaan
Ustad Somad pun sudah membaik dari sebelumya. Oleh karenanya Ustad Somad
sesegera mungkin mengumpulkan penduduknya di musholanya pada saat detik-detik
sang surya mulai kembali ke peraduannya.
Perkumpulan
pun berlangsung dengana dipimpin oleh Rahmat. Ustad Somad pun menjelaskan
sejelas-jelasnya kepada penduduknya. Bahwa hal ini sangatlah bermanfaat untuk
masa depan Kampung Seram.
Ditengah
perkumpulan tersebut ada seorang mahasiswi UIN Ambon yang kritis menyanggah
akan keputusan yang telah diambil oleh sang ustad.
“maaf
ustad, yang saya rasa dan ketahui dari beberapa sumber bahwa pengalih fungsian
masjid menjadi tempat yang bukan semestinya itu tidak boleh apalagi selanjutnya
itu menjadi tempat bisnis. Dimana di masjid itu bukanlah tempat untuk
bertransaksi. Dalilnya pun sudah jelas dan anda pun lebih mengetahuinya.”
Bantah Nussy.
“adapun
ketika kita memerlukan finasial untuk pembangunan masjid ini apa salahnya
setiap warga dimintai shadaqahnya walau seribu saja. Ketika kita menghadapinya
secara bersamaan, insya Allah kita mampu menerjangnya ustad. Selain itu bisa
saja kita ajukan kepada proposal kepada pihak pemerintahan untuk segera
memberikan hak nya bagi fasilitas umum.” Tambah Nussy menegaskan akan tidak
baiknya mengalih fungsikan sebuah masjid.
Namun
apa yang terjadi ustad Somad mengabaian apa yang disampaikan Nussy. Karena
beranggapan bahwa seorang perempuan itu tidak ada hak untuk berbicara. Selain
itu, penduduk Kampung Seram ini tidak memilik pengetahuan secara mendalam baik
itu pengetahuan umum atau pun agama. Mereka hanya berusaha bertahan hidup
dengan pengetahuan yang seadanya dilingkungan tersebut. Maka pendapat dari
Nussy pun diabaikan.
###
Beriringnya
waktu suatu hal yang diharapkan dari walet-walet yang berada di masjid yakni
air liurnya telah terkumpul. Maka segeralah Baridin dan Ustad Somad menjualnya
kepada kolektor air liur walet. Jauh dari prediksi, harga yang dijatuhkan
kolektor itu sangat lah tinggi hingga mencapai lima juta rupiah perseratus
gram. Sedangkan pada penjualan perdana ini telah mencapai lima belas kilo gram.
Begitu tinggi harga yang ditawarkan.
Merasa
belum cukup untuk pembangunan masjid yang diinginkan yakni lebih mewah dari
sebelumnya. Mereka melanjutkan bisnis tersebut.
###
Namun,
di ujung Timur Nussy terus berjuang demi pembangunan masjid dari suatu hal yang
halal. Walaupun pada saat itu Nussy tidak mendapat dukungan dari penduduk
setempat terkecuali keluarga dan teman-teman terdekatnya.
Nussy
bolak-balik terus-menerus ke perusahaan-perusahaan dan pihak pemerintahan.
Mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan sampai ke pusat. Semua
daya dan upaya Nussy telah ia kerahkan semampunya, hanya lah waktu yang akan
membalasnya.
###
Waktu
panen sarang air liur walet yang kedua pun tiba. Inilah waktu yang ditunggu
Baridin dan Ustad Somad. Mereka kembali bertansaksi dengan kolektor yang sama.
Sehingga mereka telah mengharapkann sesuatu yang sama dengan sebelumnya atau
malah lebih.
Bertemulah
mereka disuatu tempat sunyi senyap dengan dua puluh kilo gram sarang walet..
“tolong
masukan saja barangnya ke boks mobil belakang. Dan ini uangnya dalam koper sebanyak
1.5 milyar” ujar sang kolektor sambil memperlihatkan isi kopernya.
Setelah
kedua belah pihak telah saling menyetujui, masing-masing mereka pun segera
kembali. Sang kolektor dengan sarang waletnya dan Baridin dengan skoper uangnya
dengan arah yang berlawanan.
###
Sesampainya
di kampung, Ustad Somad dan Baridin mengumpulkan penduduk untuk memperlihatkan
hasil bisnisnya dan memaparkan langkah selanjutnya. Namun semua diluar harapan,
ketika koper itu di buka.
“sial..
apa-apan ini? Semua uangnya palsu. Kita telah tertipu tad. Jika begini kita
tidak mampu untuk pembangunan masjid ini.” Keluh Baridin
Ustad
Somad pun tak bisa berkata-kata melihat dan mendengar kejadiannya. Jangankan
bicara untuk berdiri tegak pun ia sudah tak bisa. Karena ia mengalami serangan
jantung ketika mendengar Baridin berkata. Dilarikannlah Ustad Somad ke
puskesmas terdekat. Namun siapa yang tahu , dipertengah jalan ia tak bisa
diselamatkan sehingga menghembuskan napas terakhirnya. Mengetahui hal tersebut
Baridin makin khawatir akan nasibnya yang telah berada diujung tanduk.
###
Terlepas
dari kekacauan tersebut. Nussy kedatangan tamu besar dari pusat pemerintahan
langsung, yakni sang presiden Joko Widodo. Beliau tersentuh akan kerja keras
dan perjuangan Nussy yang menjunjung nilai-nilai agama dan sosial. Maka tak
tanggung-tanggung donasi dari pemerintahan pun diberikan kepada kampung Seram.
Karena sang ustad sekaligus kepala desa telah tiada, penduduk pun mengangkat
Rahmat sebagai gantinya. Sehingga simbolis dilakukan oleh Pak Jokowi dengan
Rahmat di depan Masjid Istiqomah. Dan tak lupa suatu penghargaan yang diberikan
Pak Jokowi kepada Nussy sebagai pejuang tanah airnya sendiri.
Ramai
sorak dan tepuk tangan terdengar damai telah menyeliputi Kampung Seram saat
sang mentari mengintip manja di ujung Barat.
###
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar